11/30/2016

Kursi Roda untuk Ibu

Seperti biasa, jam-jam para karyawan pulang kerja membuat jalanan macet. Kemacetan ini memaksa bis yang aku tumpangi berjalan sangat lambat. Tepat didepan toko alat-alat kesehatan, bisku berhenti. Melihat kursi roda yang terpajang ditoko, mengingatkanku pada ibu.

Sudah 7 tahun ibuku terkena stroke dan membuatnya susah untuk bicara dan jalan. Selama ini ayahku lah yang setia menggendong ibuku jika beliau ingin buang air atau sekedar duduk diteras. Ayahku sudah berumur setengah abad lebih. Sudah cukup tua memang, dan sudah tidak sekuat dulu. Melihat keadaan kedua orang tuaku membuat hatiku menangis dan membuatku berpikir untuk memberikan sesuatu yang sekiranya bisa membuat mereka bahagia.

Setelah empat puluh menit bergelut dengan kemacetan, akhirnya aku dan teman-teman sampai juga di kontrakan. “Huft.. capek, pegal semua badanku, Fankeluhku pada teman sekamarku---Fanny, dia adalah teman seperjuanganku dari kota batik. Aku menghempaskan badanku ke atas kasur untuk melepas lelah.“Gimana yaa belinya… Mana bulan ini pengeluaranku banyak banget lagi” gumamku.
Aku berinisiatif untuk mencoba menghubungi kakakku yang ada di Jakarta dan mengajaknya patungan untuk membeli kursi roda. Dia setuju dan saat itu juga kami memesan kursi roda. Senang rasanya akhirnya kami bisa memberikan apa yang dibutuhkan ibu. Aku dan mas Doni---kakakku, berniat untuk memberikan sebuah kejutan. Selain memberikan kursi roda, kami juga berencana untuk sama-sama menjenguk ibu di kampung.

Malam itu juga, aku menelpon ayah dan menanyakan keadaan ibu. Aku memberi tahu ayah tentang rencanaku dan kakakku. Tapi tidak seperti dugaanku, ibu menolak untuk dibelikan kursi roda.
“Loh tapi kan, ibu bisa kemana saja dengan kursi roda itu, yah. Tanpa ayah harus capek-capek gendong ibu,” aku berusaha mendesak ayah. Kata ibumu tidak usah. Nanti mau buat siapa kursi rodanya, malah buang-buang uang. Mubadzir kan nduk, percuma,” kata ayah menjelaskan.
Dengan rasa kecewa, aku meng-iya-kan kemauan ibu, meski aku tahu kalau ibuku membutuhkannya, beliau hanya tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Itulah ibu.

Satu bulan kemudian….

Jam istirahat makan siang telah berakhir. Saatnya kembali bekerja dan mengejar target. Disaat aku sibuk dengan masalah baju reject yang bejibun, tiba-tiba hand phone ku berdering dan nama ayah tertera dilayar. Tidak seperti biasanya, beliau menelponku ditengah jam kerja. Padahal setahuku ayah tahu jadwal kerjaku.

Aku mencari tempat yang tidak terlihat leader ku untuk menjawab telpon. Belum sempat ayah mengucapkan sepatah kata, aku sudah memotongnya, “Apa sih yah, lagi sibuk ini. Nanti aja ya, yah. Kalau sudah selesai Woro telpon lagi.”

Aku pun kembali berkutat dengan baju-baju yang bermasalah. Tak lama berselang, ayah kembali menelponku lagi. Belum selesai ayah menjelaskan, lagi-lagi aku menyela pembicaraan ayah dan mematikan telpon. Perasaanku semakin tidak karuan, takut terjadi apa-apa. Karena tidak biasanya ayah menelpon berkali-kali seperti itu. Aku memutuskan untuk ijin untuk mengangkat telpon pada leader ku.

Sesampainya di kamar mandi, aku pun buru-buru menelpon kakak karena telepon ayah tidak diangkat. Hatiku deg-degan khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Assalamu’alaikum, mas. Ada apa to? Kok dari tadi ayah nelpon aku terus?” tanyaku tidak sabaran.
“Itu dek, ibu meninggal.” Jawaban yang singkat dan memukul perasaanku. Seperti petir menyambar; kaget, sedih, tidak percaya, dan marah campur aduk menyelimuti perasaanku. Air mataku mengalir begitu mendengar kabar itu. Ingin rasanya menjerit dan menyalahkan diriku sendiri.

“Mengapa Ya Allah, disaat seperti ini aku tidak bisa berada disamping ibuku untuk yang terakhir kalinya. Aku sayang ibuku Ya Allah…aku belum bisa membahagiakan beliau. Kenapa Engkau terlalu cepat memanggil ibu?” Semua ini mengingatkanku pada kursi roda, hal kecil yang belum bisa aku berikan pada ibuku.

Aku menunggu jam pulang kerja di mushola pabrik. Karena tidak ada transportasi lain, aku terpaksa harus menunggu bis jemputan. Pikiranku sudah kacau, yang aku pikirkan hanya ingin segera sampai di rumah. Dan setelah menunggu cukup lama, akhirnya jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Saatnya semua karyawan pulang, dan aku pun bergegas menaiki bis jemputan.

Semua teman-temanku memandangiku penuh iba. Sahabatku---Fanny---tidak bisa menahan air matanya. Dia tahu betul apa yang aku rasakan saat ini. Fanny menceritakan kalau dia merasakan firasat buruk sebelumnya.

“Wor, tahu nggak? Selama jam kerja tadi entah kenapa aku selalu melihat kebelakang dan melihat ada yang aneh gitu dari kamu. Ternyata ini toh, yang sabar ya, Wor,” kata Fanny dengan isak tangis dan kami menangis bersama-sama.

“Uwes to. Aku tadinya udah berhenti nangisnya malah jadi nangis lagi nih..hiks hiks,” gurauku.
Keesokan harinya…

Setelah menempuh 8-9 jam perjalan, akhirnya aku sampai di terminal Pekalongan. Aku harus naik satu bis lagi untuk sampai di rumah. Aku naik bis jurusan Semarang dan didalam bis, aku bertemu mas Doni.

Sekali lagi, untuk pertama kalinya kau melihat kakakku yang cuek ini menangis. Matanya sembam, lucu memang. Disepanjang perjalanan, kami tidak saling bicara satu sama lain. Kami larut dalam kesedihan dan melayang dalam pikiran kami masing-masing.

Sesampainya di rumah, semua tetangga, kerabat, dan teman-teman memandang kami penuh iba. Aku tidak menggubrisnya dan segera lari untuk melihat ibuku untuk yang terakhir kalinya sebelum dikebumikan. Di rumah sudah ada ayah, kakak-kakakku dan saudara lainnya.

“Lihat dek. Wajah ibu tersenyum, cantik ya,” kata mbak Ani. Ya…memang benar. Ku lihat simpul senyum pada wajah ibuku. Beliau pasti senang karena kami---anak-anaknya---telah berkumpul untuk melepas kepergiannya.

Memang benar rencana awal ku dan mas Doni untuk pulang kampung untuk berkumpul dan memberi kejutan pada ibu kami. Tapi bukan berkumpul seperti ini yang kami inginkan. Ibuku yang ingin kami beri kejutan malah memberikan kejutan luar biasa pada kami---kejutan yang tak terlupakan dan membuat kami betul-betul menangis dibuatnya.

Pelukan dan ciuman beberapa bulan lalu memang benar-benar menjadi pelukan dan ciuman yang pertama dan terakhir kalinya. Aku teringat saat ibuku mengatakan untuk tidak membelikan beliau kursi roda; ternyata ibu benar “Untuk apa beli, percuma. Untuk siapa nantinya?” dan aku baru menyadari bahwa itu adalah salam perpisahan darinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar