Seperti
biasa, jam-jam para karyawan pulang kerja membuat jalanan macet. Kemacetan ini
memaksa bis yang aku tumpangi berjalan sangat lambat. Tepat didepan toko
alat-alat kesehatan, bisku berhenti. Melihat kursi roda yang terpajang ditoko,
mengingatkanku pada ibu.
Sudah 7 tahun ibuku
terkena stroke dan membuatnya susah untuk bicara dan jalan. Selama ini ayahku
lah yang setia menggendong ibuku jika beliau ingin buang air atau sekedar duduk
diteras. Ayahku sudah berumur setengah abad lebih. Sudah cukup tua memang, dan
sudah tidak sekuat dulu. Melihat keadaan kedua orang tuaku membuat hatiku
menangis dan membuatku berpikir untuk memberikan sesuatu yang sekiranya bisa
membuat mereka bahagia.
Setelah
empat puluh menit bergelut dengan kemacetan, akhirnya aku dan teman-teman
sampai juga di kontrakan. “Huft.. capek, pegal semua badanku, Fan” keluhku pada teman
sekamarku---Fanny,
dia adalah teman seperjuanganku dari kota batik. Aku menghempaskan badanku ke atas kasur untuk melepas
lelah.“Gimana yaa belinya… Mana bulan ini pengeluaranku banyak banget lagi” gumamku.
Aku
berinisiatif untuk mencoba menghubungi kakakku yang ada di Jakarta dan
mengajaknya patungan untuk membeli kursi roda. Dia setuju dan saat itu juga
kami memesan kursi roda. Senang rasanya akhirnya kami bisa memberikan apa yang
dibutuhkan ibu. Aku dan mas Doni---kakakku,
berniat untuk memberikan sebuah kejutan. Selain memberikan kursi roda, kami
juga berencana untuk sama-sama menjenguk ibu di kampung.
Malam
itu juga, aku menelpon ayah dan menanyakan keadaan ibu. Aku memberi tahu ayah
tentang rencanaku dan kakakku.
Tapi tidak seperti dugaanku, ibu menolak untuk dibelikan
kursi roda.
“Loh
tapi kan, ibu bisa kemana saja dengan kursi roda itu, yah. Tanpa ayah harus
capek-capek gendong ibu,” aku berusaha mendesak ayah. “Kata ibumu tidak usah.
Nanti mau buat siapa kursi rodanya, malah buang-buang uang. Mubadzir kan nduk,
percuma,” kata ayah
menjelaskan.
Dengan rasa kecewa, aku meng-iya-kan kemauan ibu, meski aku
tahu kalau ibuku membutuhkannya, beliau hanya tidak ingin merepotkan
anak-anaknya. Itulah ibu.
Satu
bulan kemudian….
Jam
istirahat makan siang telah berakhir. Saatnya kembali bekerja dan mengejar
target. Disaat aku sibuk dengan masalah baju reject yang bejibun, tiba-tiba hand
phone ku berdering
dan nama ayah tertera dilayar. Tidak seperti biasanya, beliau menelponku
ditengah jam kerja. Padahal setahuku ayah tahu jadwal kerjaku.
Aku
mencari tempat yang tidak terlihat leader
ku untuk menjawab telpon. Belum sempat ayah mengucapkan sepatah kata, aku sudah
memotongnya, “Apa sih yah, lagi sibuk ini. Nanti aja ya, yah. Kalau sudah
selesai Woro telpon lagi.”
Aku
pun kembali berkutat dengan baju-baju yang bermasalah. Tak lama berselang, ayah
kembali menelponku lagi. Belum selesai ayah menjelaskan, lagi-lagi aku menyela
pembicaraan ayah dan mematikan telpon. Perasaanku semakin tidak karuan, takut
terjadi apa-apa. Karena tidak biasanya ayah menelpon berkali-kali seperti itu.
Aku memutuskan untuk ijin untuk
mengangkat telpon pada leader ku.
Sesampainya
di kamar mandi, aku pun buru-buru menelpon kakak karena telepon ayah tidak
diangkat. Hatiku deg-degan khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Assalamu’alaikum,
mas. Ada apa to? Kok dari tadi ayah nelpon aku terus?” tanyaku tidak sabaran.
“Itu
dek, ibu meninggal.” Jawaban yang singkat dan memukul perasaanku. Seperti petir menyambar;
kaget, sedih, tidak percaya, dan marah campur aduk menyelimuti perasaanku. Air
mataku mengalir begitu mendengar kabar itu. Ingin rasanya menjerit dan menyalahkan
diriku sendiri.
“Mengapa
Ya Allah, disaat seperti ini aku tidak bisa berada disamping ibuku untuk yang
terakhir kalinya. Aku sayang ibuku Ya Allah…aku belum bisa membahagiakan
beliau. Kenapa Engkau terlalu cepat memanggil ibu?” Semua ini mengingatkanku
pada kursi roda, hal kecil yang belum bisa aku berikan pada ibuku.
Aku
menunggu jam pulang kerja di mushola pabrik. Karena tidak ada transportasi
lain, aku terpaksa harus menunggu bis jemputan. Pikiranku sudah kacau, yang aku
pikirkan hanya ingin segera sampai di rumah. Dan setelah menunggu cukup lama,
akhirnya jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Saatnya semua karyawan
pulang, dan aku pun bergegas menaiki bis jemputan.
Semua
teman-temanku memandangiku penuh iba. Sahabatku---Fanny---tidak bisa menahan
air matanya. Dia tahu betul apa yang aku rasakan saat ini. Fanny menceritakan
kalau dia merasakan firasat buruk sebelumnya.
“Wor,
tahu nggak? Selama jam kerja tadi entah kenapa aku selalu melihat kebelakang
dan melihat ada yang aneh gitu dari kamu. Ternyata ini toh, yang sabar ya, Wor,” kata Fanny dengan isak
tangis dan kami menangis bersama-sama.
“Uwes to. Aku tadinya udah berhenti nangisnya
malah jadi nangis lagi nih..hiks hiks,” gurauku.
Keesokan
harinya…
Setelah
menempuh 8-9 jam perjalan, akhirnya aku sampai di terminal Pekalongan. Aku
harus naik satu bis lagi untuk sampai di rumah. Aku naik bis jurusan Semarang
dan didalam bis, aku bertemu mas Doni.
Sekali
lagi, untuk pertama kalinya kau melihat kakakku yang cuek ini menangis. Matanya
sembam, lucu memang. Disepanjang perjalanan, kami tidak saling bicara satu sama
lain. Kami larut dalam kesedihan dan melayang dalam pikiran kami masing-masing.
Sesampainya
di rumah, semua tetangga, kerabat, dan teman-teman memandang kami penuh iba. Aku tidak menggubrisnya
dan segera lari untuk melihat ibuku untuk yang terakhir kalinya sebelum dikebumikan.
Di rumah sudah ada ayah, kakak-kakakku dan saudara lainnya.
“Lihat
dek. Wajah ibu tersenyum, cantik ya,” kata mbak Ani. Ya…memang benar. Ku lihat
simpul senyum pada wajah ibuku. Beliau pasti senang karena
kami---anak-anaknya---telah berkumpul untuk melepas kepergiannya.
Memang
benar rencana awal ku dan mas Doni untuk pulang kampung untuk berkumpul dan
memberi kejutan pada ibu kami. Tapi bukan berkumpul seperti ini yang kami
inginkan. Ibuku yang ingin kami beri kejutan malah memberikan kejutan luar
biasa pada kami---kejutan yang tak terlupakan dan membuat kami betul-betul
menangis dibuatnya.
Pelukan
dan ciuman beberapa bulan lalu memang benar-benar menjadi pelukan dan ciuman
yang pertama dan terakhir kalinya. Aku teringat saat ibuku mengatakan untuk
tidak membelikan beliau kursi roda; ternyata ibu benar “Untuk apa beli,
percuma. Untuk siapa nantinya?” dan aku baru menyadari bahwa itu adalah salam perpisahan darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar